Inti
dari kompetensi perusahaan global adalah
asset yang tidak kasat mata(invisible
asset), yakni kecerdasan, inovatif, kreativitas, kemampuan bernegosiasi
melakukan “cut deal”(Drs. Suyadi Prawirosentono, MBA).
Mahasiswa perindustrian sebagai agen pembaharu industrialisasi nasional
dituntut untuk mampu berkompetisi pada saat globalisasi tenaga kerja 2015
mendatang. Berkaitan dengan hal itu sangat diharapkan bagi mahasiswa
perindustrian agar mampu mengembangkan diri dan bersaing dengan tenaga kerja
dari Negara asing. Setidaknya diperlukan 3 kemampuan dasar yang harus dikuasai
oleh mahasiswa sebelum mereka benar-benar terjun dalam persaingan gobal akhir
tahun 2015 besok yaitu soft skill, hard skill, dan leadership.
Soft
skill adalah hal-hal yang berkaitan dengan bakat seseorang. Mahasiswa harus
mengembangkan diri sesuai dengan bakat yang dimiliki karena dunia industri
global menuntut pekerjaan ditangani oleh orang yang ahli. Saat ini era industri
lebih berorientasi untuk merekrut tenaga kerja berdasarkan bakat tanpa
mengkerdilkan peran kompetensi yang berkualitas. Dunia industri menyadari jika untuk
semakin meningkatkan produktivitas tenaga kerja saat ini lebih diorientasikan
agar pekerjaan yang menyesuaikan tenaga kerjanya dan bukan tenaga kerja yang
menyesuaikan pekerjaannya, hal ini terbukti lebih efektif menciptakan kualitas
sumber daya manusia yang lebih baik dalam perusahaan. Sejatinya bakat dan
kompetensi seseorang akan berjalan beriringan dengan pengembangan yang terus
menerus(continuous improvement)
karena bakat yang dimiliki sejak seseorang lahir adalah karunia Tuhan dan akan
dapat semakin optimal jika dikembangkan untuk menunjang karirnya.
Hard
Skill adalah kemampuan seseorang dalam menangani sebuah pekerjaan, hard skill
berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis
tertentu. Hard skill akan sangat menunjang seseorang untuk bekerja secara
professional. Pada masanya nanti ketika aliran tenaga kerja asing bebas masuk
ke Negara kita kemampuan hard skill adalah kemampuan yang sangat menonjol
dilihat oleh dunia industri, jika dilihat dari berbagai hasil riset kemampuan
hard skill tenaga kerja kita memang lebih rendah dari beberapa Negara Asean
yang lain, hal ini tidak lain dikarenakan intensitas pengembangan dan pelatihan
yang belum maksimal, maka perbaikan harus segera dilakukan khususnya bagi
pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan kampus perindustrian untuk
melakukan pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan. Untuk meningkatkan
hardskill, mahasiswa harus selalu mengembangkan diri dan melakukan pelatihan-pelatihan
untuk meningkatkan keterampilan teknis menangani bidang pekerjaan tertentu.
Berbagai keterampilan itu dapat diperoleh manakala menjalankan perkuliahan
ditunjang dengan kegiatan praktek yang menunjang. Oleh karena itu penting bagi
kampus-kampus kementerian perindustrian yang rata-rata menyelenggarakan
pendidikan vokasional untuk mengoptimalkan pengadaan fasilitas-fasilitas yang
menunjang praktikum mahasiswa. Selain itu untuk memaksimalkan pelatihan,
mahasiswa perlu mengenal lebih dalam tentang kompetensi yang harus ia kuasai
dengan melakukan pelatihan langsung di tempat kerja(on the job training), hal ini bertujuan agar mahasiswa mengenal
kondisi dan situasi lingkungan agar pada nantinya proses adaptasi kerja bisa
berjalan lancar. Jadi, selain mahasiswa melakukan praktek pelatihan kerja
secara tidak langsung di kampus(Off the
Job training) pihak kampus seharusnya lebih mengoptimalkan pelatihan on the job melalui kebijakan kampus
seperti mewajibkan mahasiswa untuk magang dan membuat laporan akhir setiap
libur semester. Pelatihan baik on the job
maupun off the job ini mesti
dilaksanakan secara terintegrasi dan dilakukan pengukuran hasil pelatihan oleh
pembimbing menggunakan metode pengukuran yang akurat.
Leadership
adalah sikap mahasiswa sebagai calon professional yang bijaksana, analitis,
responsif dan tepat mengambil keputusan. Mahasiswa dituntut untuk mampu
mempengaruhi orang lain ke arah tujuan yang lebih baik. Mahasiswa harus mampu
mengorganisasikan dirinya untuk hidup dalam kelompok dan berinteraksi secara
dinamis serta mampu mengkomunikasikan ide-idenya untuk kemajuan perusahaan
nantinya. Hal ini mesti dilatih dimulai saat proses perkuliahan. Pada saat
menjalani perkuliahan ini mahasiswa harus aktif dalam berbagai kegiataan kampus
untuk mengembangkan dirinya hidup dalam sebuah kelompok dan berusaha mencapai
tujuan bersama. Leadership juga meliputi kemampuan seorang tenaga kerja untuk
mengkomunikasikan ide serta gagasan agar dapat dipahami oleh orang lain, hal
ini merupakan poin yang penting dikuasai apalagi pada masa aliran perdagangan
bebas MEA nantinya akan sangat banyak tenaga asing yang datng ke negara kita.
Kompetensi lain yang harus dikuasai mahasiswa adalah masalah bahasa, kompetensi
bahasa ini setidaknya sudah direspon oleh negara-negara Asean, bahkan di
Thailand sudah mulai menjamur pelatihan-pelatihan Bahasa Indonesia karena
Indonesia dipandang memiliki pasar yang besar untuk menampung tenaga kerja negara-negara
Asean lainnya. Hal ini juga mesti kita tindaklanjuti dengan melakukan
pelatihan-pelatihan bahasa asing agar langkah kita tidak tertinggal oleh negara
lain, diharapkan mahasiswa dapat menguasai minimal Bahasa Inggris dan satu
bahasa asing di negara Asean.
Drs. Suyadi Prawirosentono, MBA menjelaskan ada 3 hal penting yang dimiliki SDM
berbasis global yaitu:
. Mampu
mempelajari prinsip-prinsip persaingan global secara mendalam
Pengetahuan yang
solid (solid knowledge) tentang
strategi bisnisnya
Alat dan metode untuk
menanggulangi persaingan global
Ketiga
hal di atas akan dapat dikuasai melalui penguasaan soft skill, hard skill, dan
leadership yang mumpuni. Penguatan ketiga aspek tersebut masih perlu pengkajian
yang mendalam dan terus diaplikasikan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Naufal 'Aziz A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar