Abdurrahman Addakhil, lahir di Jombang 4 Agustus 1940 sebagai seorang
putra pertama menteri agama pertama, KH. Wahid Hasyim. Abdurrahman Addakhil
yang pamornya dihargai dengan panggilan Gus Dur adalah seorang yang punya daya
magis di kalangan warga nahdliyyin. Selain seorang Ulama kharismatik nan jenius
beliau adalah tokoh yang kritis dan selalu mengundang kontroversi. Banyak
tulisan yang telah mengulas karakter dan kepribadian Gus Dur, di antara ribuan
artikel tentang Gus Dur ini adalah artikel yang sengaja saya buat sebagai
bentuk penghormatan kepada beliau(Allahu Yarham) sebagai tokoh inspirator dan
guru bangsa yang selalu mengajar mata pelajaran persatuan, toleransi,
pluralitas, humanitas, dan Islam Rahmatan lil ‘alamin.
Gus Dur mengajarkan kepada
kita bahwa hidup ini sebenarnya mudah,
dia terkenal sering mengeluarkan jargon gitu
aja kok repot yang sebenarnya dapat kita ambil sisi positif bahwa apapun
yang terjadi di hidup kita tidak perlu dipikirkan yang susah-susah, hidup akan selalu berjalan dan rasa dari kehidupan
itu tergantung kita yang memberi bumbu-bumbu kehidupan. Apabila kita terlalu
memikirkan masalah dan terjerumus dalam kegalauan bukan berarti keadaan akan
tambah baik tapi justru sebaliknya. Begitupun Gus Dur hidup, selalu penuh keceriaan
tak peduli berjuta orang memuji dan mencelanya dia selalu hidup sebagai Gus Dur
yang berani, selalu mengkritisi dengan gayanya, konsisten membela orang lemah,
dan ta’dzim kepada Ulama. Sisi ini yang patut kita teladani dari beliau apalagi
pemuda yang sedang berjuang meraih mimpi bahwa keberanian dan kinerja yang
konsisten akan membawa kita meraih impian.
Satu pelajaran berharga dari Gus
Dur yang sangat penting kita praktekkan dalam kehidupan adalah 3 prinsip hidup
beliau yang selalu beliau sampaikan di forum-forum talkshow, ceramah, pidato
kenegaraan, dan seminar-seminar. Gus Dur selalu mengingatkan bahwa selama hidup
dia selalu merasa tidak punya musuh, Gus Dur selalu memaafkan kesalahan orang
seberat apapun kesalahan mereka, dan satu lagi Gus Dur selalu membela kaum
minoritas. Prinsip ini benar-benar Gus Dur amalkan dalam hidupnya, kita
sama-sama tahu pada saat beliau diturunkan paksa oleh MPR pada tahun 2001 dari
tampuk kepemimpinan kepresidenan adalah bentuk kezaliman nyata para birokrat
yang tidak suka dengan kebijakan Gus Dur yang tanpa kompromi. Pada saat itu
bukan dia tidak mendapat dukungan rakyat atau analisis kompleksnya bukan karena
dekrit presiden yang beliau sampaikan tidak mendapat kepercayaan dari
masyarakat. Menilik pernyataan mantan ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr.
Mahfud MD. yang saat itu dipercaya meyakinkan jutaan laskar komando pasukan
berani mati pimpinan Kiai Nuril Arifin Semarang yang siap mencegah penurunan
Gus Dur dari tampuk kepemimpinan adalah tidak mungkin Gus Dur saat itu dikhianati
rakyatnya melainkan dikhianati elit politik yang saat itu tidak cukup dewasa
bekerja melaksanakan check and balance
pemerintahan. Saat itu dengan gayanya yang santai beliau menginstruksikan
seluruh basis pendukungnya di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk
tidak usah berbondong-bondong datang ke Jakarta mencegah penurunannya dari
istana. Momen itu dijadikan Gus Dur untuk mengajari masyarakat bahwa
sesungguhnya tidak ada kepemimpinan di dunia ini yang patut dipertahankan
mati-matian dan tidak masuk akal jika sebuah peralihan kepemimpinan harus
mengorbankan satu saja nyawa yang melayang.
Gus Dur lahir dari keluarga yang
beradab dan dihormati, kultur NU sangat kuat dia pegang dalam kehidupannya.
Bagaimanapun tingkah dan polah Gus Dur saat beliau hidup baik yang sejalan
dengan kehidupan warga NU ataupun tidak tak akan pernah melunturkan cinta dan
hormat warga nahdliyyin kepadanya, meminjam bahasa Listianto Santoso pengarang
buku Teologi Politik Gus Dur
menyatakan jika seberapa salah Gus Dur di mata warga nahdliyyin, mereka akan
dengan ikhlas memaafkan begitulah kiranya daya magis Gus Dur yang saya utarakan
di awal tadi. Listianto mengungkapkan dalam bahasa yang elok jika mempelajari
Gus Dur itu seperti membaca tulisan tanpa akhir dan mengarungi samudera
keilmuan tanpa batas, jangan pernah berharap dengan membaca kehidupan Gus Dur
anda akan menjumpai tanda titik karena anda akan lebih sering menemukan ribuan
tanda koma dan tak jarang berakhir dengan tanda tanya.
Gus Dur adalah sosok guru yang
patut kita teladani di tengah carut marut kehidupan berbangsa saat ini. Prinsip
beliau akan sangat penting kita aplikasikan dalam kehidupan. Dalam suatu
peristiwa , Syaikh Nazhim Al Haqqani pernah ditanya seseorang apakah
Gus Dur itu benar-benar seorang wali dan beliau menjawab dengan lugas “lihatlah nanti ketika dia sudah wafat!!”
sekarang kita tengok pernyataan Sang Mufti dan ambillah kesimpulan
masing-masing dari kita atas jawaban dari pertanyaan “apakah Gus Dur itu
seorang Wali atau bukan ?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar