Selasa, 16 Desember 2014

Kompetensi Global Mahasiswa Perindustrian untuk Menghadapi MEA 2015



Inti dari kompetensi  perusahaan global adalah asset yang tidak kasat mata(invisible asset), yakni kecerdasan, inovatif, kreativitas, kemampuan bernegosiasi melakukan “cut deal”(Drs. Suyadi Prawirosentono, MBA). Mahasiswa perindustrian sebagai agen pembaharu industrialisasi nasional dituntut untuk mampu berkompetisi pada saat globalisasi tenaga kerja 2015 mendatang. Berkaitan dengan hal itu sangat diharapkan bagi mahasiswa perindustrian agar mampu mengembangkan diri dan bersaing dengan tenaga kerja dari Negara asing. Setidaknya diperlukan 3 kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh mahasiswa sebelum mereka benar-benar terjun dalam persaingan gobal akhir tahun 2015 besok yaitu soft skill, hard skill, dan leadership.
Soft skill adalah hal-hal yang berkaitan dengan bakat seseorang. Mahasiswa harus mengembangkan diri sesuai dengan bakat yang dimiliki karena dunia industri global menuntut pekerjaan ditangani oleh orang yang ahli. Saat ini era industri lebih berorientasi untuk merekrut tenaga kerja berdasarkan bakat tanpa mengkerdilkan peran kompetensi yang berkualitas. Dunia industri menyadari jika untuk semakin meningkatkan produktivitas tenaga kerja saat ini lebih diorientasikan agar pekerjaan yang menyesuaikan tenaga kerjanya dan bukan tenaga kerja yang menyesuaikan pekerjaannya, hal ini terbukti lebih efektif menciptakan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dalam perusahaan. Sejatinya bakat dan kompetensi seseorang akan berjalan beriringan dengan pengembangan yang terus menerus(continuous improvement) karena bakat yang dimiliki sejak seseorang lahir adalah karunia Tuhan dan akan dapat semakin optimal jika dikembangkan untuk menunjang karirnya.
Hard Skill adalah kemampuan seseorang dalam menangani sebuah pekerjaan, hard skill berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis tertentu. Hard skill akan sangat menunjang seseorang untuk bekerja secara professional. Pada masanya nanti ketika aliran tenaga kerja asing bebas masuk ke Negara kita kemampuan hard skill adalah kemampuan yang sangat menonjol dilihat oleh dunia industri, jika dilihat dari berbagai hasil riset kemampuan hard skill tenaga kerja kita memang lebih rendah dari beberapa Negara Asean yang lain, hal ini tidak lain dikarenakan intensitas pengembangan dan pelatihan yang belum maksimal, maka perbaikan harus segera dilakukan khususnya bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan kampus perindustrian untuk melakukan pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan. Untuk meningkatkan hardskill, mahasiswa harus selalu mengembangkan diri dan melakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keterampilan teknis menangani bidang pekerjaan tertentu. Berbagai keterampilan itu dapat diperoleh manakala menjalankan perkuliahan ditunjang dengan kegiatan praktek yang menunjang. Oleh karena itu penting bagi kampus-kampus kementerian perindustrian yang rata-rata menyelenggarakan pendidikan vokasional untuk mengoptimalkan pengadaan fasilitas-fasilitas yang menunjang praktikum mahasiswa. Selain itu untuk memaksimalkan pelatihan, mahasiswa perlu mengenal lebih dalam tentang kompetensi yang harus ia kuasai dengan melakukan pelatihan langsung di tempat kerja(on the job training), hal ini bertujuan agar mahasiswa mengenal kondisi dan situasi lingkungan agar pada nantinya proses adaptasi kerja bisa berjalan lancar. Jadi, selain mahasiswa melakukan praktek pelatihan kerja secara tidak langsung di kampus(Off the Job training) pihak kampus seharusnya lebih mengoptimalkan pelatihan on the job melalui kebijakan kampus seperti mewajibkan mahasiswa untuk magang dan membuat laporan akhir setiap libur semester. Pelatihan baik on the job  maupun  off the job ini mesti dilaksanakan secara terintegrasi dan dilakukan pengukuran hasil pelatihan oleh pembimbing menggunakan metode pengukuran yang akurat.
Leadership adalah sikap mahasiswa sebagai calon professional yang bijaksana, analitis, responsif dan tepat mengambil keputusan. Mahasiswa dituntut untuk mampu mempengaruhi orang lain ke arah tujuan yang lebih baik. Mahasiswa harus mampu mengorganisasikan dirinya untuk hidup dalam kelompok dan berinteraksi secara dinamis serta mampu mengkomunikasikan ide-idenya untuk kemajuan perusahaan nantinya. Hal ini mesti dilatih dimulai saat proses perkuliahan. Pada saat menjalani perkuliahan ini mahasiswa harus aktif dalam berbagai kegiataan kampus untuk mengembangkan dirinya hidup dalam sebuah kelompok dan berusaha mencapai tujuan bersama. Leadership juga meliputi kemampuan seorang tenaga kerja untuk mengkomunikasikan ide serta gagasan agar dapat dipahami oleh orang lain, hal ini merupakan poin yang penting dikuasai apalagi pada masa aliran perdagangan bebas MEA nantinya akan sangat banyak tenaga asing yang datng ke negara kita. Kompetensi lain yang harus dikuasai mahasiswa adalah masalah bahasa, kompetensi bahasa ini setidaknya sudah direspon oleh negara-negara Asean, bahkan di Thailand sudah mulai menjamur pelatihan-pelatihan Bahasa Indonesia karena Indonesia dipandang memiliki pasar yang besar untuk menampung tenaga kerja negara-negara Asean lainnya. Hal ini juga mesti kita tindaklanjuti dengan melakukan pelatihan-pelatihan bahasa asing agar langkah kita tidak tertinggal oleh negara lain, diharapkan mahasiswa dapat menguasai minimal Bahasa Inggris dan satu bahasa asing di negara Asean.
     Drs. Suyadi Prawirosentono, MBA menjelaskan ada 3 hal penting yang dimiliki SDM berbasis global yaitu:

    .                          Mampu mempelajari prinsip-prinsip persaingan global secara mendalam
                                   Pengetahuan yang solid (solid knowledge) tentang strategi bisnisnya 
                  Alat dan metode untuk menanggulangi persaingan global 
Ketiga hal di atas akan dapat dikuasai melalui penguasaan soft skill, hard skill, dan leadership yang mumpuni. Penguatan ketiga aspek tersebut masih perlu pengkajian yang mendalam dan terus diaplikasikan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Naufal 'Aziz A.





Jumat, 28 November 2014

Mahasiswa Perindustrian Sebagai Agen Pembaharu(Agent of Change)


Mahasiswa perindustrian yang tergabung dalam 8 institusi pendidikan yang berada di bawah naungan kementerian perindustrian bertujuan untuk menyiapkan tenaga-tenaga profesional sektor industri. Dalam pelaksanaan MEA tahun 2015 mendatang calon-calon profesional ini dituntut untuk memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang profesional yang unggul dan berdaya saing. Saat ini sudah dilaksanakan berbagai macam kebijakan yang dilaksanakan antara pihak Kementerian Perindustrian melalui Pusdiklat dengan kampus-kampus di bawah naungan Kementerian Perindustrian untuk mulai mengadakan pembinaan intensif terhadap para mahasiswa diantaranya pelaksanaan sertifikasi profesi melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Dengan adanya sertifikasi profesi ini  menjadikan mahasiswa perindustrian lebih diakui kemampuan dan kompetensinya di dunia industri, sayangnya hanya sebagian kampus perindustrian yang sudah melaksanakan agenda ini berkaitan dengan persyaratan yang belum semua kampus bisa memenuhi. Baik  dari lingkungan Sekolah Tinggi, Akademi, maupun PTKI harus memacu langkah lebih cepat agar bisa melaksanakan agenda ini sebagai pengakuan yang akan berguna bagi lulusan kampus perindustrian untuk lebih diterima di dunia industri. Selain itu proses pengembangan diri mesti terus dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Tidak dipungkiri jika peran pemerintah meliputi pelatihan jangka pendek, menengah dan jangka panjang harus lebih dioptimalkan. Dukungan pemerintah ini sangat berguna bagi peningkatan kompetensi mahasiswa saat menjalani perkuliahan terlebih masalah fasilitas yang mendukung sudah semestinya di tahun-tahun perdagangan bebas ini pemerintah meningkatkan kuota APBN yang diperuntukkan bagi pengembangan kampus-kampus perindustrian. Mahasiswa perindustrian pada nantinya harus mampu memperbaiki kualitas tenaga kerja kita yang masih buruk, menurut  data Buletin Komunitas Asean peringkat Indonesia masih 22% lebih buruk dari Malaysia, Singapura dan Vietnam. Pembaharuan sistem mesti dilakukan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa perindustrian melalui 3 strategi kompetensi sebagaiman dijelaskan Prof. Suyadi Prawirosentono, MBA meliputi :
· Organizational Learning, Mahasiswa perindustrian dituntut untuk mampu menumbuhkembangkan teknologi baru yang menunjang penciptaan gagasan dan ide baru untuk peningkatan kualitas produk.
·      Continous Improvement, mahasiswa harus selalu mengembangkan diri secara berkelanjutan untuk mencapai kualitas kompetensi terbaik yang mampu diraih.
·      Competitive Culture, hal ini sangat penting pada persaingan global MEA mendatang karena budaya atau kebiasaan seseorang dalam mengorganisasikan dirinya pada suatu kelompok akan menentukan bagaimana tingkat kinerja seseorang.
Aplikasi strategi di atas harus benar-benar dimaksimalkan agar tujuan dari peningkatan kualitas tenaga kerja dapat dicapai.Agen pembaharu menurut Havelock(1995) adalah seseorang yang mampu berperan sebagai seorang leader, fasilitator, negosiator, dan advisor, mahasiswa perindustrian adalah figur yang dituntut mampu menjalankan peran tersebut dengan baik. Agen pembaharu adalah leader yang mampu mengajak orang lain bekerja sama menjalankan sesuatu  untuk mencapai tujuan bersama, mampu mempresentasikan dirinya sebagai penyambung aspirasi dan menciptakan iklim komunikasi yang kondusif, mampu membawa kepentingan kelompok dan mempertahankan pendirian bersama saat melakukan negosiasi dan mampu mengarahkan sebuah pekerjaan yang salah menuju trek yang benar.  Pengetahuan mahasiswa perindustrian di era globalisasi industri tidak boleh terfokus pada orientasi yang sempit. Mahasiswa perindustrian dituntut berpikir kritis dan komprehensif serta berwawasan global dalam memandang dinamika globalisasi yang terus berputar. Era industri global telah datang, persiapan harus dioptimalkan dan kompetensi mesti dikembangkan terus menerus, pilihan selalu ada di tangan kita sendiri.